Make your own free website on Tripod.com

BUDAYA KAWANGKOAN

Kawangkoan dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi persaudaraan sebagaimana yang dicanangkan oleh Gubernur A.E.Mangindaan “TORANG SAMUA BASUDARA”

 

Rasa persaudaraan terjalin dengan baik diantara pemeluk Agama yang ada baik yang ada di Kota Kawangkoan maupun Minahasa bahkan Sulawesi Utara pada Umumnya.

 

Kawangkoan dikenal sebagai kumpulan orang-orang bisnis yang ulung : Tibo, Tukang, Tukang potong boke, pencari besi bekas, pencari botol

 

Selain itu dalam hal hubungan sosial antar sesama : Misalnya kedukaan, ada yang dikenal dengan “URUNAN PINAESAAN” dimana tanpa di komado secara spontan anggota masyarakat segra berkumpul untuk mendirikan bangsal. Selain itu dikenal juga acara yang dinamakan “BRANTANG”. Dulunya acara brantang hanya ada di Kota Kawangkoan tapi saat ini telah berkembang sampai di desa-desa Kecamatan Kawangkoan.

Acara brantang ini dilaksanakan satu hari setelah penguburan di sponsori langsung oleh Pemerintah Lingkungan(kalau desa disebut jaga) dimana kedukaan itu terjadi. Brantang dilaksanakan satu hari penuh dimulai pagi hari sampai malam hari. Semua masyarakat yang merasa ada ikatan dengan keluarga berupa : tetangga, kenalan, saudara, bahkan tidak ada hubungan keluarga sekalipun dari mana saja dapat mengambil bagian untuk makan bersama dengan keluarga tapi dengan membayar uang brantang sebesar Rp 6000 (enam ribu rupiah) makan sepuasnya.

Ketika hari minggu tiba (Mingguan) maka melalui keluarga mengundang masyarakat, Jemaat, tetangga dan handai taulan untuk bersama-sama untuk beribadah dirumah ibadah dan selanjutnya bersama keluarga untuk makan bersama,